Menelisik Keberadaan anak Punk Muslim
Assalamualaikum wr. wb.
apakabar ya akhi ya ukhti, ya abah ya umi semua? kali ini saya akan menshare suatu ketakjuban saya akan hal yang satu ini. Ya.. Anak PUNK. pasti ukhti dan akhti langsung mengernyitkan kening waktu mendengar hal ini. Biasanya saya waktu pulang kuliah khususnya hari pada hari minggu maghrib, saya sering menjumpai anak-anak Punk/anak ngegembel (istilah jawa) nongkrong di jalan Simpang Lima Kebumen untuk menunggu truk untuk di tumpangi, dari kaca bus (karena saya menaiki bus) saya melihat betapa lusuhnya mereka, seakan-akan this's my world, you can't distrub me, tapi yah remaja kan memang sedang mencari jati diri, namun cara mereka sedikit berbeda. nah seketika itulah saya browse tentang Punk, yang keluar Punk muslim... yuks kita baca bareng-bareng semoga bermanfaat.
PUNK MUSLIM, diawali dari kejemuhan disrepairisasi kehidupan diri
dan sosial, kejemuhan yang menjadi sebuah kegelisahan, kegelisahan untuk
berdiri dan bangkit mensubversi hegemoni hitam hati dalam diri dan
hegemoni hitam budaya punk itu sendiri, kegelisahan menjelma menjadi
sebuah keprihatinan, keprihatinan untuk menjadi sebuah kepedulian
menyelamatkan diri dan kehidupan kawan-kawan dari lubang yang kami gali
sendiri.
Pada 2007 pertengahan tahun, Punk Muslim dieksistensikanNYA
untuk menjadi sebuah komunitas yang bershafkan Punkajian (pengajian),
pendidikan, seni musik, dan Insya Allah akan berkembang menjadi
shaf-shaf yang lainnya termasuk shaf ekonomi yang akan kami rintis.
Adalah sekumpulan pemuda-pemudi yang ingin hidup bermanfaat bagi
lingkungan sekitarnya, “melawan arus” adalah jalan yang dipilihnya dan
dipilihkanNYA, karena berjalan dalam ladang yang tak bertuan ( jalanan
), yang sangat rentan dengan konflik, karena kami sangat merasakan itu.
Dua
hal yang tak mungkin disatukan, Punk yang menyuarakan Anti Tuhan dan
Muslim adalah pelaku ajaran Monotheis Islam, kami bukan bermaksud untuk
menyatukan dua kata ini dalam pengertian yang harfiah.
Punk Muslim mencoba jalankan perintah seperti, “sampaikanlah walau
cuma satu ayat”, “saling ingat mengingatkanlah kalian dalam kebaikan”,
atau ribuan perintah-perintah yang lain, dan kami ini baru satu, dua
atau tiga saja yang bisa kami kerjakan, Dan kami ini mengkhususkan untuk
menyampaikan kepada diri kami sendiri dan merangkul kawan-kawan Punk
yang terlanjur nge-Punk
Lebih jauh lagi mereka ingin memberikan sebuah opsi kepada para
punkers, atau sebagai sebuah gerakan oposisi dalam “Negara” yang bernama
punk ini, yang sebenarnya banyak juga kesenjangan antara para pemikir
(tokoh) dan pengekornya (rakyat).
Kami mencoba menemani kawan-kawan yang sudah mulai lelah dan payah dengan punk yang telah dijalaninya.
Punk Muslim tidak melawan mereka (punkers), yang kami lawan adalah
sebuah konsep atau sistem yang membuat mereka seperti yang terlihat
sekarang, melawan pembiasan makna kebebasan yang ekstrim dan terlampau
mengada-ada, dan melawan dasar mereka turun kejalanan entah karena
broken home atau sebab lain.
Muslim adalah sebuah subyek, dan Punk hanya sebuah object, terlepas
dari letak susunan kata subyek dan object, “punk muslim” atau “muslim
punk”.
Kami
ini hanya sebuah anti-tesis. Mencoba membuat dialektika dalam punk itu
sendiri. Kami bukan punk islam atau islam punk, kami Punk Muslim.
Mengenal Pendiri dan Pengasuh Punk Muslim
Inilah fenomena baru: ngaji di kalangan anak Punk. Mereka
mengeindetitaskan pengajian komunitas underground itu dengan sebutan
Punk Moslem.
Adalah Ahmad Zaki, menyisihkan waktunya untuk mengasuh anak-anak punk
belajar membaca Al Qur’an. Zaki, menaruh harapan besar, generasi muda
ini kelak menjadi agen perubahan untuk menularkan kebaikan kepada
rekan-rekan sesama anak-anak punk.
Pergumulan Zaki dengan komunitas anak-anak punk bermula ketika ia
bergaul dengan teman-teman komunitas punk di kawasan Pulo Gadung,
Ramadhan setahun yang lalu (2007). Ketika itu, Zaki menjadi Event
Organigizer (EO) sebuah pertunjukan musik di sebuah kampus. Ia sering
mengundang komunitas punk dalam kegiatan pertunjukan musik di mall-mall,
kampus dan sekolah-sekolah.
Saat itulah Zaki mendapat tempat di hati anak-anak punk. Mereka
sering bertanya, kapan ada job lagi, maksudnya agenda ngeband. “Mereka
yakin, secara materi bisa mendapatkan sesuatu, setelah saya menjadi
marketing kelompok band mereka,” ujar Zaki mengenang.
Zaki yang aktif di Dompet Dhuafa (DD) rupanya telah mengamati
perkembangan anak-anak punk yang acapkali nongkrong di jalan-jalan ini.
Meski Zaki bukan anak jalanan, ia merasa terpanggil untuk berdakwah di
komunitas anak-anak punk.“Dulu, saya pernah pernah bandel.
Setidak-tidaknya, saya tahu kehidupan mereka,” kilahnya.
Di komunitas band underground itulah, Zaki bertemu dengan (alm) Budi
Khaironi, orang yang paling disegani di komunitas punk tersebut. Sebelum
meninggal akibat kecelakan motor (Maret 2007), Zaki teringat kata-kata
yang pernah diucapkan pimpinan komunitas punk itu: “Bang Zaki, tolong
bimbing teman-teman kami (secara spiritual).”
Siapa sesungguhnya Budi Khaeroni (32)?
Dia
adalah anak jalanan jebolan pesantren yang terjun ke jalan. Selain
ngeband dan mengamen, Budi pernah menjadi Ketua Panji (Persaudaaran Anak
Jalanan Indonesia).
Perlu diketahui, setiap wilayah di Indonesia, mereka punya
persaudaraan, komunitasnya sekitar 5000-an, rata-rata muslim. Jika ada
teman-teman yang terjaring trantib, Budi-lah yang mengurus untuk
membebaskan rekannya itu. Di usia muda, tepatnya 23 Mei 2007 lalu, Budi
meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, meskipun sempat dirawat
selama tiga hari di RS. UKI.
Komunitas Punk Moeslem rupanya mulai banyak jaringannya. “Kalau ikut
komunitas mereka di Tangerang, shalat Jumat, misalnya, khotibnya pun
dari kemunitas mereka sendiri, gayanya metal abis. Termasuk jamaahnya.
Memang, nggak semuanya punk, alirannya beragam, ada yang beraliran
regge, alternatif, rap, dan aliran musik lainnya,” kata Zaki.
Ternyata Budi tidak sendiri. Ada seorang rekan yang memiliki misi
sama untuk mengisi ladang dakwah ini di tengah komunitas anak punk. Ia
adalah Bowo, anak kiai jebolan pesantren yang juga habis waktunya di
jalan. Sejak itulah, Zaki merasa mendapat dukungan penuh.
“Kalau bukan kita siapa lagi yang akan berdakwah di kalangan anak
jalanan. Kalau mau dakwah di komunitas anak jalanan, elu harus main di
jalanan. Jika berdakwah di komunitas punk, elu tidak bisa pake baju
koko, yang menunjukan kesalehan,” begitu Bowo pernah berujar.
Sebagai generasi punk yang tobat, Budi dan Bowo merasa prihatin dan
gerah melihat teman-teman yang mengalami disorientasi dalam hidupnya.
“Kini banyak bermunculan generasi punk yang tidak jelas, apakah punk
ideologis atau punk modis. Kalau tahun 1994, banyak punk ideologis.
Mereka benar-benar punk. Sekarang sekadar punk mode,” kata Zaki.
Keprihatinan itulah yang mendorong Zaki, Budi dan Bowo menarik
anak-anak punk yang sudah bosan dengan jalan hidupnya. Ngeband dan
mengaji adalah kultur baru yang hendak ditularkan ke generasi punk.
Mereka menyebut identitas kelompoknya dengan sebutan punk Moeslem. Saat
ngeband, syairnya pun bernuansakan Islami. Ketika Islam menjadi basic,
mereka mulai malu saat berbuat maksiat.
Punk Moslem lahir karena keprihatinan seorang Budi (alm), akan
kondisi pemuda yang berada dikomunitas Punk, hidup tanpa orientasi (anti
kemapanan) dan meninggalkan agamanya. Punk Moslem itu didirikan sejak
Ramadhan 1427 H (2007). Sebelum berdiri Punk Moslem, Budi sempat
mendirikan Warung Udix Band yang berdiri 7 tahun yang lalu dan sempat
mengeluarkan album indielabel “Anak Bayangan”. Di Warung Udix, ia
merekrut anak-anak punk dan mengajarkan pendidikan Islam.
“Kalau orang bangga dengan kemusrikan dan dosa-dosa yang mereka
lakukan, tapi punk moeslem bangga dengan agama mereka (Islam). Biar
mereka anak jalanan, brutal, tapi anak-anak punk moeslem tetap punya
Tuhan. Ketika teman-teman menamakan dirinya punk muslim, ada sebagian
komunitas yang menolak punk muslim secara tegas. Mereka berkilah, tidak
ada tuh anak punk yang punya tuhan atau ideologis.”
Setelah ngeband, anak-anak punk merasa ada sesuatu yang kosong. Sejak
4-5 bulan yang lalu, dibuatlah pengajian rutin. Setiap malam Jumat,
diadakan taklim, bentuknya seperti mentoring. Sedangkan Selasa malam,
belajar tahsin. Mulanya hanya lima anak yang ngaji, kemudian berkembang
menjadi 20 orang, laki-laki dan perempuan. Kini, ngaji bagi mereka
adalah sebuah kebutuhan.
Awalnya mereka ada yang atheis. Sampai-sampai ada yang guyon, ah..gue
mau masuk Islam atau Kristen dulu. Karena bagi mereka, agama bukanlah
sesuatu yang sakral. Kalau pas ngamen, cuma dapat Rp. 300, diantara
mereka ada yang teriak: “Allah Maha Pelit”. Setelah dibina, anak itu
meyakini Allah itu tidak pelit. Tak ada jalan lain, cara membina mereka
adalah dengan cara mendoktrin.
“Ketika anak-anak punk sudah menganggap ngaji sebagai kebutuhan,
mereka mengirim pesan singkat (sms), malam ini ngaji nggak? Yang jelas,
saya tidak ingin mereka merasa sedang diarahkan untuk masuk sebuah
pergerakan atau kelompok harakah tertentu. Saat ini, pengajian kami
memang belum ada namanya. Paling-paling, teman-teman menyebut pengajian
ini pengajiannya punk moeslem.”
Zaki menargetkan untuk lebih focus membina 20 anak yang rutin
mengaji. Suatu ketika, mereka akan merekrut rekan-rekannya sendiri.
Syukur-syukur jaringan ini bisa menyebar lagi. Rencananya, awal Juni ini
Zaki akan memberi daurah (pelatihan) di puncak. Dari 20 anak yang
mengaji, separuhnya sudah ada yang lancar membaca al Quran.
Meski Zaki bekerja di sebuah lembaga sosial (DD), ia tak diminta
untuk berdakwah atas nama institusinya. Secara pribadi, Zaki merasa
terpanggil. Tak sia-siaa, hasil dari dakwah itu, tak sedikit anak-anak
punk yang hijrah dan mulai pandai mengaji. Sebut saja, Lutfie yang
meninggalkan dunia obat dan minuman keras. “Harapan saya ke depan,
mereka dapat menjadi agen perubahan bagi teman-teman yang lain,” jelas
Zaki.
Bukan rahasia umum, anak jalanan kerap dianggap tidak produktif,
bahkan dicap sampah masyarakat. Orang kalau berdakwah di masjid itu
biasa. Tapi bagaimana jika berdakwah di komunitas anak-anak punk?